Bagi para pencinta manga genre shoujo atau kisah romansa remaja, nama Yuu Watase tentu sudah tidak asing lagi. Mangaka legendaris yang terkenal melalui karya-karya besar seperti Fushigi Yuugi dan Ayashi no Ceres ini juga memiliki satu karya klasik yang tidak kalah menarik untuk diikuti, yaitu Imadoki! . Jika Anda sedang mencari bacaan yang ringan, menghibur, sekaligus penuh dengan pesan moral tentang persahabatan, mencari tempat untuk adalah pilihan yang sangat tepat.

Bagi kolektor, tidak ada yang bisa mengalahkan sensasi memegang buku fisik. Imadoki pernah diterbitkan secara resmi di Indonesia oleh dalam seri Manga Shoujo . Anda bisa mencarinya di:

Bagi Anda yang ingin mengoleksi atau membaca kembali kisah ini, edisi fisik Imadoki! volume 1-5 tamat masih sering ditemukan di platform seperti Tokopedia dengan harga yang cukup terjangkau bagi para kolektor komik retro.

: Cerita tidak terasa membosankan karena intrik drama remaja yang serius selalu diselingi oleh humor segar dari tingkah laku Tanpopo yang polos.

: Tokoh utama pria yang menyembunyikan luka batin dan tekanan keluarga di balik topeng kedisiplinan serta sikap dinginnya. Dia sebenarnya sangat menyukai tanaman, khususnya bunga dandelion (yang dalam bahasa Jepang disebut Tanpopo ).

Membaca komik Imadoki! (yang secara harfiah berarti "Zaman Sekarang!") karya Yuu Watase membawa pembaca pada perjalanan nostalgia tentang perjuangan sosial dan ketulusan hati. Manga yang diterbitkan di Indonesia oleh penerbit M&C! ini terdiri dari lima volume yang mengisahkan kehidupan Yamazaki Tanpopo, seorang gadis desa yang pindah ke sekolah elit di Tokyo.

Namun, realitas di Akademi Meiko ternyata jauh dari bayangannya. Sekolah tersebut dipenuhi oleh murid-murid dari keluarga kaya raya yang cenderung bersikap dingin, individualis, dan hanya peduli pada status sosial. Hari pertama Tanpopo di sekolah langsung disambut dengan penolakan dan intimidasi karena latar belakangnya yang hanya seorang gadis biasa dari pedesaan.

Dinda menyadari sesuatu: membaca Imadoki dalam bahasa Indonesia terasa berbeda. Lebih akrab. Lebih hidup. Terjemahannya tidak kaku—rasanya seperti mendengar teman sendiri bicara. Bahkan nama makanan seperti onigiri diterjemahkan menjadi “nasi kepal,” tapi tetap diberi catatan kaki yang ramah.